Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan

Untk sang Burung Merak (Semacam Poem)


Diantara putih pekat halimun pertiwi

Dikala kelahiran sang anak bumi

Waktu bercerita tentang ceria yang kita cipta

Dan duka yang telah bisa kita musnah

Dengan gagah kau berdiri

Dengan gagah pula kau tinggal kami

Burung merak, keindahanmu telah tiada

Kau pergi diantara ingatan yang takkan sirna

Dan kami berduka dalam tahta belasungkawa

Sebait terakhir penghormatan kami

Selamat jalan sang burung merak

Kini kau telah raih kemerdekaan sejatimu

Kemerdekaan disisi terindah-Nya

My Life According to Cannibal Corpse


Pick your Artist: Cannibal Corpse


Are you a female: Unnatural

Describe yourself: Born in Casket


How do you feel : Devoured by Vermin


Describe where you currently live : Under the Rotted Flesh


If you could go anywhere, where would you go: Bloodlands


Your favorite form of transportation: Skewered from Ear to Ear


Your best friend is: Absolute Hatred


You and your best friend are: Butchered at Birth


What's the weather like: Living Dissection


Favorite time of day: Meathook Sodomy


If your life was a TV show, what would it be called: Evisceration Plague


What is life to you: Beheading and Burning


Your relationship: Shredded Humans


Your fear: Stripped, Raped, and Strangled


What is the best advice you have to give: Evidence in the Furnace


How I would like to die: Hammer Smashed Face


My soul's present condition: Covered with Sores


My Motto: Vomit the Soul

Cerita Tolol

Dajal pun belum sempat bertandang..
Tapi kiamat terasa telah menjelang..
Sabda suci dibungkam tanpa ngiang..
Firman Tuhan dijadikan dasar perang..
Nurani hanya bisa geliat meregang...

Begitu banyak roh dikorbankan..
Derasnya air mata dicucurkan..
Darah para tumbal dialirkan..
Dan sejuta harapan termusnahkan...

Telah cukupkah semua ini..
Harapku dalam ruang mimpi..
Tiada akan kembali terjadi..
Akan damai yang menghampiri...

Garuda di Dadaku (Movie Review)


Well guys.. GARUDA DI DADAKU, udah keliatan kan kalo tema movie ini tentang bola..hehehe

GARUDA DI DADAKU (GDD) di release mulai 18 Juni kemaren, kalo ane gak salah.. GDD ngisahin tentang perjalanan seorang anak bernama Bayu.. Awalnya gini, Bayu (Emir Mahira) maen bola diem2 tanapa dikethui embahnya (Ikranagara), tapi pas dia pengen ngempisin bolanya (n disembunyin d bajunya) kakeknya masuk kamar, then bola itu jatoh, tapi si Bayu bisa ngeles.. Abis itu si Bayu ma Hery (Aldo Tansani) nontn final bola antar remaja.. Emang dasar Bayu, setelah final selesae, ia nendang bola ke salah atu bis peserta, and tepat masuk lewat jendela.. Bayu diminta ngulangin and suckses beraaaattt.. Pak Yohanes (critanya salah satu pelatih SSI Arsenal) minta Bayu buat masuk SSI Arsenal...

Kakek Bayu membenci hal yang namanya bola, coz babenya si Bayu minggat dari rumah hanya karna pengenjadi pemain bola.. Menurutnya (embahnya td), pemain bola tu ukan golongan elit (bilang aja gak bisa ngerti bola..hehehe).. Bayu malah dikasih les macem2, yang kalo ane bilang sich gak mau.. But, because bantuan dari si Hery, dia bisa masuk SSI Arsenal.. Tapi, Pak Yohanes rada kecewa coz mereka bohong kalo Bayu udah masuk di salah satu SSB gt.. Untungnya, Pak Yohanes masih mau ngasih tau kalo mo ada seleksi beasiswa di SSI Arsenal..

Bayu usaha keras donk pastinya, nyari tempat latian bareng si Hery.. And hasilnya, dapet kuburan yang dijaga Zahra (Marsha Aruan) juga babenya.. Hasilnya gak maen2 coy, Bayu lolos tes SSI arsenal and masuk seleksi pemaen timnas U-13.. Abis itu, embahnya malh (sempat2nya) pingsan n kondisinye tambah buruk, Bayu nyesel and gak mao maen bola lagi.. Setelah si embah sadar, Wahyuni (Maudy Koesnaedi) alias nyokapnya Bayu, nyritain everything ke Embah Bayu yang nyuruh Bayu buat maen bola lagi.. Bayu ndatengin Pak Yohanes (yang kecewa coz Bayu gak perna latian) and merayu memanja.. Bayu pun suckses membujuk Pak Yohanes (pinter juga loe ngerayu.. :b).. Terus Bayi, eh Bayu lolos Seleksi Timnas U-13 bareng salah satu peserta SSI Arsenal yang benci Bayu.. Then, mereka ngelawan Timnas U-13 Jepang and hasilnya adalah nonton donk!! Cukup dulu, ntar loe gak jadi nonton dech..hehehe

Pelm ini tergolong pelm yang oke, rasa Nasionalisme dan kecintaan pada bola keliatan banget.. Sebuah sisi persahabatan juga ada di pelm ini.. Realita dan perjuangan melewati kerasnya hidup tertuang di pelm ini bebalut sentuhan humor yang lumayan kerasa.. So, nonton aja dab!! \m/

Herman Dynazty (Profile or Whatever)



Suatu sore di ujung hayat bulan Juni tahun ini, di pinggir sebuah sawah.. Ane pake jaket juga celana panjang seadanya plus sandal krem bermotif kembang2 yang gue ambilpaksa dari nyokap gue.. Ane nongkrong bedua bareng seorang kawan yang ane kenal pertama kali paz masuk smp doeloe.. Well, Herman, drummer band gue sendiri.. Pria sederhana kelahiran Jogja 12 Juli 1992.. Seorang bertampang bahaya, berhati mulia (menurut ane)..

“Wah, raono gitar e (wah gak ada gitar ney),” katanya..

“Yo’i nyante wae Man (nyantai aja Man),” jawabku.. Dan kemudian pembicaraan mengalir kaya air got, mulai dari rencana manggung minggu depan (tanggal 8 Juli maksutnye), kemah, hingga masalah paha dan selangkangan tentunya..hehe

Well, dia (Herman), super sederhana and apa adanya.. Hidup dari keluarga yang (bukan menghina) merakyat (kaya kampanye ya?? Hahaa) seperti kehidupan di desa pada umumnya.. Lulusan SD Pandowan 1, dan ketemu ane and membentuk Dynazty pada 2006 pas masa SMP 1 Galur, then ia nerusin skull di SMK Ma’arif Wates, gue lupa dia ngambil jurusan apa..hehehe

“Maghrib sek yo, engko gek ngeben (Maghrib dulu yuk, nanti baru ngeband),” ajaknya seraya berdiri dan berjalan kaki menuju rumahnya yang tak jauh dari tempat nongkrong tadi.. Berpakaian kaos putih bergambar “toegoe djokdja” masa lalu (kaya’e dagadu gt) plus sendal jepit kuning yang kayaknya nyaris jebol, diambilnya kain sarung dari dalam rumahnya yang juga berwarna putih motif kotak2 (gak kebayang kalo sarung pink kembang2) sederhana.. alan kaki lagi menuju mushola yang jaraknya 100 meter aja dari rumahnya.. Then, sholat jamaah (walopun cuma 4 orang) tentunya..

Next, ngeband tentunya.. Ke-kalem-annya berubah menjadi kebencian yang menjadi2 waktu memainkan drum sticks dan drumnya juga lah.. Seperti biasa, 3 lagu lelah membayanginya.. Dia pindah posisi jadi megang bass, itung2 buat istirahat.. Entah kenapa ngeband kali ini pada kurang semangat.. F*ck!! F*ck!! Kata itu terucap lagi di dalem ati..

Saat Herman back to the drum position, Komar (julukan akrab gitaris Dynazty) semakin terlihat lesu.. Lagu “we are your enemy” milik Dying Fetus selesai dimaenkan, suasana masih lesu.. F*ck!! Ane perhatiin Herman masih memainkan drum sticks di atas snare drum (baca:grinding).. Jam 20:28 kira2 kita kembali ke alamnya, ane nganter Herman pulang dulu tentunya..

Well, that’s all, it just sebuah tulisan terimakasih dan ungkapan rasa salut kepadanya.. Thank’s guys, you’ve influenced me.. Menghadapi dunia metal yang menggila, penuh kebencian, tanpa meninggalkan aturan yang ada.. Tampang bahaya, hati mulia.. Cool!! Salut bro, terusin dab!! \m/

Dying Fetus - We are your Enemy (Lyrics)

die rust, and rot away, this last war doesn't have a name
a cancer on this lifeless carcass called the world
not one left in peace, a policy of manditory greed
eats its way across this nation built on lies

post-modern slaves, we don't give a fuck so long as money made
buy, sell, believe, three words are just what you need
at birth we're hooked for life, soul-less selfish power-fight
last hope fades, chaos starts to...

multiply a paradox of fucking hate, and lies, is nothing real at all? sell the
dream, competition is a way, of life, are you for sale, or me?
pain for price, commodified we are the last
device, its all the fucking same
world devolved, emotions are they dying gasp
dissolved, its just a rotting faith...

blind we sleepwalk into history
victims of the first world sodomy

the fire burns inside, we've left the past for dead,
let's spread the wealth among us and kill the rich instead...

their broken crosses falling, no longer on our knees
our revolution stroming, from sea to bloody sea